Minggu, 26 April 2009

CIMANDE

SEJARAH DAN PERKEMBANGANNYA


Menurut informan Pencak Silat aliran Cimande pertama kali diciptakan dari seorang Kyai bernama Mbah Kahir. Mbah Kahir adalah seorang pendekar Pencak Silat yang disegani. Pada pertengahan abad ke XVIII (kira-kira tahun 1760), Mbah Kahir pertama kali memperkenalkan kepada murid-muridnya jurus silat. Oleh karena itu, ia dianggap sebagai Guru pertama silat Cimande.

Mbah Kahir bertempat tinggal di kampong Cogreg, Bogor, ditepi Cimande. Di Cogreg itulah ia mengajarkan dan memberi latihan Pencak Silat kepada murid-muridnya. Kemudian murid-muridnya menyebar luaskan Pencak Silat tidak hanya di daerah Bogor, tetapi sebagian besar daerah Jawa Barat seperti Jakarta, Bekasi, Karawang, Cikampek, Purwakarta, Subang, Priangan (Sukabumi, Cianjur, Bandung, Garut, Tasikmalaya, Sumedang, Ciamis, Kuningan, dan Cirebon).

Sewaktu masih tinggal di Cogreg Bogor Mbah Kahir sering berpergian jauh meninggalkan kampung halamannya untuk mencari nafkah dengan jual beli kuda. Perjalanan yang ditempuhnya masih rawan, karena itu dalam perjalanannya Mbah Kahir sering mengalami gangguan baik dari binatang buas maupun dari perampok. Untuk mengatasi itu, Mbah Kahir berusaha menciptakan suatu gerakan yang dapat melindungi dirinya daridari ancaman pihak lawan. Untuk itulah menurut informan, Mbah Kahir beristikharah dan shalat tahajud yang bertujuan untuk meminta inspirasi dari Allah SWT intuk mendalami Silat. Akhirnya Mbah Kahir mempelajari Silat berdasarkan Al Qur’an

Dalam mencari nafkah dengan jual beli kuda Mbah Kahir sering pergi ke Betawi. Di Betawi ia berkesempatan berkenalan dengan pendekar-pendekar silat orang Sumatera dan Cina yang ahli dalam persilatan.Perkenalannya dengan para pendekar itu menjadikannya tambahan ilmu pengetahuan tentang Pencak Silat. Ilmu yang didapat itu kemudian ia kembangkan sehingga Mbah Kahir menjadi terkenal sebagai Pendekar Pencak Silat yang tiada bandingannya. Kecepatan gerak langkah dan pukulan serta kuda-kuda yang selalu disertai dengan keseimbangan badan merupakan gerakan ampuh dalam serangan dan tangkisan.

Dalam menjalankan usaha dagangnya, Mbah Kahir sampai ke Cianjur. Dalam perjalanannya pernah diganggu perampok-perampok, tetapi berkat ilmu Pencak Silat yang dipunyainya, beliau selalu selamat dan sampai tujuannya ke Cianjur dan kembali ke Cogreg Bogor. Pada tahun 1770, Mbah Kahir menikah dengan orang Cianjur dan kemudian pindah ke Cianjur dan bertempat di Kampung Kamurang, Kecamatan Mande. Disana ia mengajarkan ilmu Pencak Silat Cimandenya. Kepada para pemuda. Pada waktu itu yang menjadi Bupati Cianjur adalah Bupati ke VI yakni Raden Adipati Wiratanudatar, yang disebut Dalem Cikundul ( 1776-1813 )

Begitu tekenalnya Mbah Kahir sebagai Pendekar Pencak Silat, maka putera Bupati Wiratanudatar disuruh belajar Pencak Silat padanya. Begitu pula para pegawai Kabupaten dan para petugas keamanan belajar Silat kepadanya. Pada suatu ketika, Mbah Kahir diuji oleh Bupati Cianjur untuk bertanding Silat dengan perantauan Cina dari Macao. Pertandingan Silat ini diadakan di alun-alun Cianjur dengan dihadiri para pembesar, keluarga Bupati dan masyarakat setempat. Dalam pertandingan ini ternyata dimenangkan oleh Mbah Kahir. Semenjak itulah Mbah Kahir jadi bahan cerita dimana-mana.

Pada tahun 1815 Mbah Kahir kembali ke Bogor dan meninggal tahun 1825. Mbah Kahir mempunyai 5 orang anak laki-laki, yakni Bp. Endut, Bp. Ocod, Bp. Otang, Bp. Komar, dan Bp. Oyot. Kelima anaknya inilah yang kemudian menyebar luaskan Pencak Silat Cimande dari Bogor melalui Cianjur ke Bandung dan hampir ke seluruh Jawa Barat. Sementara itu daerah Bogor, yang meneruskan Pencak Silat Cimande adalah murid-murid Mbah Kahir bernama Mbah Ace yang meninggal di Tarikolot / Cimande. Hingga sekarang keturunannya menjadi sesepuh Pencak Silat Cimande.

Oleh karena itu dalam permulaan abad ke XIX Pencak Silat dan Mbah Kahir di Jawa Barat tidak dapat dipisahkan. Pakaian Mbah Kahir sehari-hari jadi model pakaian Pencak Silat hingga sekarang, yaitu celana dibawah lutut berkolor (sontog) atau panjang lepas model Cina disebut “pangsi“ baju “kampret“ bertali atau berkancing dan di kiri kanan sebelah bawah terbuka sepanjang selebar tangan.

Dalam perkembangannya, Pencak Silat Cimande diterima secara luas oleh masyarakat Jawa Barat dan menyebar ke segala pelosok. Berdasarkan pola Cimande berkembang pula anak-anak aliran seperti Sera dan Ciwaringin. Dalam perkembangannya, ada yang kemudian mengadakan perubahan-perubahan jurus, seperti yang dilakukan oleh Bp. H. Abdul Rosid. Akan tetapi perubahan itu tidak prinsipil hingga gerakan dasar dan aliranpun tidak berubah namanya, tetap Cimande. Banyak murid-murid Mbah Kahir yang meneruskan dan mengajarkan Ilmu Pencak Silat ditempatnya masing-masing.

Dewasa ini, Pencak Silat aliran Cimande sudah terkenal dan tersebar diseluruh Nusantara. Di desa Cimande sendiri, Pencak Silat tidak berada dalam satu tatanan organisasi. Maksudnya tidak ada struktur organisasi. Penyebarannya lebih bersifat kekeluargaan. Jelasnya Pencak Silat Cimande menyebar melalui para keturunan dan anak muridnya dengan tahapan yang tidak terorganisir. Dalam rentang waktu yang panjang tersebut. Pencak Silat ini telah melahirkan murid-murid yang banyak. Para murid ini berguru kepada para sesepuh, kemudian mengembangkan kembali ilmu yang dimilikinya. Hasil berguru inilah kemudian baik sepengetahuan gurunya atau tidak, telah melahirkan berbagai perguruan atau Padepokan Silat masing-masing daerah asalnya.

“Pencaplokan“ nama Cimade sebagai symbol perguruan Pencak Silat tidaklah menjadi larangan. Selain itu ada pula yang mendirikan padepokan dengan nama lain tetapi “isinya“ adalah jurus-jurus Cimande. Hal ini menunjukkan bahwa Pencak Silat Cimande sedikit banyaknya telah dijadikan dasar bagi berkembangnya suatu “aliran“ Pencak Silat.

DESKRIPSI PENCAK SILAT CIMANDE

Pencak Silat sebagai salah satu jenis permainan tradisional yang digemari oleh masyarakat Cimande. Permainan ini dapat dilakukan oleh semua lapisan masyarakat. Pencak Silat ini merupakan olah raga atau seni bela diri dan dapat dijadikan sebagai alat untuk mempertahankan diri dari serangan lawan. Artinya, mempertahankan diri dari ancaman dengan taktik “ serang-hindar “

Pada dasarnya Pencak Silat aliran Cimande ini mempunyai suatu strategi tertentu yang sangat erat hubungannya dengan kekuatan atau tenaga, kecepatan dan keseimbangan. Pencak Silat Cimande cenderung menggunakan “ tenaga ledak “ ( Kari, Sunda ) karena dilihat dari caranya menggunakan “ jarak “. Dalam arti merupakan aliran jarak jauh yang pendekar-pendekarnya mengambil jarak selepas kaki dan setuntas tangan dari lawannya. Mereka cenderung memelihara jarak, sebagai titik tolak serangan maupun titik tolak penghindaran.

Pencak Silat ini biasanya dipertunjukkan jika ada hajatan, misalnya khitanan atau upacara lainnya dengan iringan tabuh-tabuhan seperti kendang. Dalam pertunjukan, alat yang dipergunakan berupa sebilah pedang, dan jika pedang ini tidak ada maka dapat dilaksanakan tanpa peralatan apapun. Selain itu, dalam pertunjukan diperlukan arena permainan dan dalam memainkan menggunakan teknik tertentu serta menggunakan atribut sebagai cirri khas dari Pencak Silat aliran Cimande.

TEKNIK PERMAINAN

Yang dimaksud dengan teknik permainan adalah bagaimana cara Pencak Cimande dilakukan. Dalam kata lain Pencak Silat Cimande sebagai refleksi menjaga diri dari berbagai serangan musuh, yang diwujudkan Cimande sebenarnya tidak sulit untuk dipelajari. Menurut informan bahwa setiap manusia memiliki naluri dalam menggerakkan anggota tubuh, misalnya ketika akan jatuh sempat memegang dan merubah posisi kakinya atau menangkis dengan reflek apabila ada yang jatuh tepat disisi badannya. Gerakan seperti itu dianggap sebagai gerakan yang menjurus ke Pencak Silat hanya saja belum teratur dan tersistematis. Silat adalah strategi yang digunakan untuk serangan lawan. Begitu pula Silat Cimande mempunyai kiat tertentu berupa strategi dan tekhnik dalam merobohkan atau merobohkan atau mempertahankan diri dari serangan lawan.

Secara umum pola dasar Pencak Silat Cimande yang pertama kalinya menggunakan jarak jauh, yaitu para pendekar yang mengambil jarak selepas kaki setuntas tangan. Siasat ini digunakan untuk menghindari serangan lawan. Biasanya dengan menggunakan teknik seperti ini, maka serangan pukul tendang merupakan teknik dominan dalam Pencak Silat Cimande.

Setiap pendekar dalam melakukan serangan harus memperhatikan setiap kaki atau kuda-kuda yang bertujuan untuk menjaga jarak lawan. Kuda-kuda yang diterapkan ini harus dapat dipindah-pindahkan dan dapat dubah-ubah dalam frekuensi tinggi. Karena dipastikan lawan akan memberikan serangan jarak jauh dalam bentuk pukulan dan tendangan dengan kecepatan tinggi. Untuk merobohkan lawan, maka diperlukan suatu jurus Silat sehingga si pendekar dapat mengimbangkan serangan lawan.

Secara garis besar jurus Pencak Silat Cimande ini dibagi dalam tiga bagian, yaitu : Jurus Kelid Cimande, Jurus Pepedangan, dan Jurus Tepak Selancar. Adapun jurus kelid Cimande dan jurus pepedangan merupakan beladiri, sedamgkan tepak selancar termasuk seni.

1. Jurus Kelid Cimande

Jurus ini merupakan jurus pokok aliran Cimande yang bertujuan untuk menangkis pukulan serangan lawan sambil berusaha merubuhkannya. Kelid artinya menangkis serangan lawan sambil berusaha merubuhkannya. Jurus kelid Cimande ini seluruhnya berjumlah 33 jurus, berturut-turut yaitu : tinjok bareng, tonjok sabeulah, kelid, selup, timpah sabeulah, timpah serong, timpah dua kali, batekan, teke tampa, teke purilit, tewekan, kedutan, guaran, kedut guar, selup tonjok, kelid tilu, kelid lima, selup lima, peuncitan, timpah bohong, serong panggul, serong guwil, serong guar, singgul serong, singgul sabeulah, sabet pedang, beulit kacang, pakala alit, pakala gede.

Jika diperhatikan jurus kelid ini nampaknya tertumpu pada kemampuan tangan sebagai inti kekuatannya, seperti tonjok, bentuk tangan mengepal, teke dilakukan ruas jari tangan, tewekan bentuk tangan menusuk. Jurus kedutan menggunakan telapak tangan. Jurus guaran menggunakan sisi tangan luar maupun dalam, singgulan menggunakan pangkal tangan. Dalam keseluruhan gerakan jurus kelid terlihat agak unik dari gerakan silat lain yang biasanya kekuatan optimalnya tertumpu pada kaki. Biasanya untuk melatih jurus kelid ini dilakukan dengan cara duduk ditempat.

Cara berlatihnya adalah dua orang yang saling berhadapan dengan kaki sebelah dilipat dan sebelah lagi dilonjorkan kedepan. Tujuan latihan dengan sikap duduk dilantai adalah untuk melatih daya imajinasi seseorang untuk menentukan kuda-kuda yang tepat saat jurus-jurus tersebut dilakukan berdir. Dengan dikuasainya gerakan tangan tentunya secara otomatis dapat mengatur kuda-kuda sesuai jurus yang digunakan, dan juga akan lebih mudah dalam mempelajari jurus selanjutnya.

2. Jurus Pepedangan

Jurus ini bertumpu pada sikap kaki dan teknik menyerang dengan menggunakan senjata pedang. Dalam latihan jurus pepedangan ini para pendekar membuat pedang dari bambu sebagai pengganti pedang sebenarnya. Jurus pepedangan didominasi sikap kaki yang disejajarkan, seperti serongan merupakan posisi kaki miring dengan membentuk sudt 45 derajat, kenudian tagogan adalah gerakan kaki yang merendah dengan posisi tumit kaki menempel pada pinggul dengan kakinya sedikit berjingka.

Jurus pepedangan ini berjumlah satu jurus, berturut-turut yaitu : ela-ela sabeulah, selup kuriling, jagangan, tagogan, piceunan, balungbang, balumbang, sabeulah, opat likur, buang dua kali, selup kuriling langsung, selup bohong.

3. Jurus Tepak Selancar

Jurus tepak selancar ini sebagai tambahan yang biasanya hanya digunakan untuk pertunjukan. Karena sifatnya hanya pertunjukan, maka jurus-jurusnya mengandung aspek seni. Jurus tepak selancar ini harus diiringi dengan seperangkat alat musik “ tetabuhan “ yakni terdiri dari 2 buah gendang besardan 2 buah gendang kecil (Kulanter Sunda) yang berfungsi sebagai pengisi gerak dan pengatur tempo lagu. Kenudian sebuah terompet sebagai melodi lagu, dan sebuah gong kecil yang disebut kempul atau bende. Dalam hal pengiringan, gerak-gerak Pencak Silat lebih dititik beratkan pada pukulan gendang. Disamping itu, pukulan gendang mempunyai motif-motif tertentu yang sudah dikenal, yaitu : tepak dua, tepak tilu, golempang, padungdung.

ATRIBUT DAN PAKAIAN PENCAK SILAT CIMANDE

Atribut dan pakaian yang dikenakan oleh anggota Pencak Silat Cimande adalah baju hitam dengan menggunakan sarung dipinggangnya. Penggunaan atribut dan pakaian secara lengkap hanya digunakan untuk pertunjukan, sedangkan pada waktu latihan cukup menggunakan celana panjang dan baju tangan panjang berwarna hitan dengan ukuran agak longgar disertai ikat pinggang dari kain warna merah. Pakakian dengan atribut lengkap biasanya ditambahkan dengan pengikat kepala warna krem, kopiah hitam, dan sarung dililitkan dipinggang. Pakaian dengan segala kelengkapannya ini disebut sbagai pakaian “ pangsi “. Penentuan warna dan penggunaan atribut ini masing-masing mempunyai arti sendiri. Penggunaan pakaian hitam mempunyai arti bahwa manusia harus selalu kuat dalam menghadapi cobaan dari Allah SWT, karena manusia didunia tidak luput dari cobaan. Warna merah berarti berani menegakkan kebenaran dan bertanggung jawab segala tindakan yang diperbuat. Sementara itu, warna krem diartikan sebagai manusia hidup didunia ini harus mengutamakan kejujuran dan keluhuran budi agar selamatdunia akhirat. Arti penggunaan kopia tidak ada hanya sebagai symbol bahwa Pencak Silat Cimande merupakan Silat yang bernafaskan ke-Islaman. Untuk penggunaan sarung sekedar memberikan kesan rapi dan sopan.

Para pengguna pakaian ini tidak ada perbedaan untuk laki-laki dan perempuan, begitu pula dalam tingkat kepandaiannya. Mereka menganggap setiap manusia mempunyai bakat dan kepandaian yang sama, hanya saja belum dipergunakan secara maksimal. Selain itu menurut mereka dengan adanya perbedaan tingkat dan pakaian akan menimbulkan kesenjangan antar murid, yang akan mencetuskan rasa iri sesamanya. Disisni dapat dilihat bahwa Silat Cimande ini lebih mengutamakan kebersamaan dan kekeluargaan, seperti apabila ada murid tidak mempunyai pakaian seragam mereka akan membantu untuk membelikannya.

PERKUMPULAN/PERGURUAN PENCAK SILAT CIMANDE

Pusat perguruan Pencak Silat Cimande berkedudukan di Tarikolot, Cimande, Bogor, Jawa Barat adalah merupakan salah satu aliran Pencak Silat tertua yang ada di Indonesia. Salah satu pimpinan sebuah Perguruan Pencak Silat di Bali mengakui bahwa Pencak Silat Cimande yang tertua, disamping itu, ia menyebutkan bahwa cikal bakal Pencak Silatnya berasal dari aliran Cimande.

Pencak Silat Cimande ini merupakan Pencak Silat tradisional yang tumbuh dan berkembang tanpa struktur organisasi. Dahulu pelatihannya tidak terorganisir karena umumnya untuk kepentingan keluarga dan anggotanya saja. Jadi hampir disetiap rumah masing-masing mempunyai tempat tersendiri untuk latihan. Pengajar Silatnya adalah para Orang tua terutama ayah. Para orang tua menganggap perlu mewariskan ilmu Pencak Silat kepada anak-anaknya atau saudara-saudaranya. Kini Pencak Silat Cimande sudah terorganisir walaupun tidak ada struktur organisasinya. Wadah perkumpulannya disepakati oleh pini-sepuh dan keturunan Mbah Kahir lainnya yang sifatnya kekeluargaan, kesepakatan, ini direfleksikan dalam sebuah perguruan Pencak Silat Cimande yang diberi nama “Pusat Perguruan Pencak Silat Cimande“ (P3SC). Dalam wadah ini pemimpin perkumpulan Cimande disebut “sesepuh“ karena ia dipandang sebagai Guru. Guru itulah yang memimpin perguruan dan mengembangkan alirannya kepada pengikut atau warga perguruannya.

KODE ETIK PENCAK SILAT TALEK CIMANDE

Setiap perguruan Pencak Silat mempunyai kode etik. Etika ini didalam Pencak Silat merupakan suatu kewajiban yang harus dipatuhi oleh setiap murid dan tidak boleh dilanggarnya. Begitu pula halnya dengan Pencak Silat Cimande mempunyai kode etik yang dikenal dengan “Talek Cimande“ dan diberlakukan dengan ketat. Lengkapnya Talek Cimande adalah sebagai berikut :

1. Harus taat dan Taqwa kepada Allah SWT dan RasulNya

2. Jangan melawan kepada Ibu dan Bapak

3. Jangan melawan kepada Guru dan Ratu (Pemerintahan)

4. Jangan judi dan mencuri

5. Jangan ria, takabur, dan sombong

6. Jangan berbuat zinah

7. Jangan bohong dan licik

8. Jangan mabuk-mabukan dan menghisap madat

9. Jangan jahil, menganiaya sesame makhluk Tuhan.

10. Jangan memetik tanpa ijin, mengambil tanpa minta ( ulah mipit teu amit, ngala teu babeja )

11. Jangan suka iri hati dan dengki

12. Jangan suka tidak membayar hutang

13. Harus sopan santun, rendah hati, dan saling harga menghargai diantara sesame manusia

14. Berguru Cimande bukan untuk gagah-gagahan, kesombongan dan ugal-ugalan tetapi untuk mencapai keselamatan dunia akhirat

Disamping talek, ada semacam sumpah atau janji yang dinamakan Panca Setia yang dititik beratkan kepada kesetiaan warganya. Panca Setia itu adalah sebagai berikut :

1. Kami Insan Pencak Silat Cimande yang beriman dan bertaqwa kepada Tuhan Yang Maha Esa

2. Kami Insan Pencak Silat Cimande yang patuh dan taat kepada Pemerintah Republik Indonesia, pancasila dan UUD 1945

3. Kami Insan Pencak Silat Cimande yang patuh dan taat kepada Ibu-Bapak

4. Kami Insan Pencak Silat Cimande yang mengutamakan penggunaan Pencak Silat untuk melerai diri demi kebenaran dan keadilan

5. Kami Insan Pencak Silat Cimande yang setia dan menepati janji serta mengamankan talek cimande

Talek Cimade merupakan pengisi dan pengekang nafsu hewani dan sifat-sifat lainnya yang dapat merugikan semua pihak. Hal ini karena Pencak Silat bukan bertujuan untuk menguasai dan berkuasa atas manusia lainnya. Pada hakekatnya talek Cimande ibarat mayat yang menebarkan bau busuk yang menyesakkan. Oleh karenanya, persyaratan utama menjadi anggota atau berlatih Pencak Silat Cimande adalah Sumpah Talek Cimande.

Pada dasarnya Pencak Silat Cimande ini berfungsi sebagai media sinar agama ( Islam ). Oleh karena itu ketaatan kepada Allah dan RasulNya dengan menjalankan segala perintahnya, merupakan syariat utama yang harus ditaati Keluarga Besar Pencak Silat Cimande.

Setiap calon murid Cimande yang akan mengikuti pelajaran dan latihan Pencak Silat sebagai murid, terlebih dahulu menyatakan kesediaannya memeatuhi tata cara atau etika perguruan yang amat dihormati dalam perguruan itu. Salah satu kebiasaan yang harus dipenuhi sebagai salah satu persyaratan ialah sebelum menjadi murid Cimande terlebih dahulu harus melalui serangkaian acara seperti “upacara“ 7 yang bersifat tradisi.

Tradisi yang dimaksud adalah melakukan semacam sumpah dan janji yang disebut dengan istilah “patalekan“ atau “ ba’iat“.

Patalekan Cimande dijelaskan sedemikian rupa kepada calon murid hingga benar-benar memahaminya, apabila sanggup untuk mengamalkan dan mematuhinya, maka tangannya dipegang oleh Gurunya sebagai tanda kesanggupan. Selanjutnya sesepuh atau Gurunya melakukan upacara ritual dengan membaca do’a-do’a tawasul. Setelah itu, ia meneteskan campuran ramuan khusus kepada mata sang murid. Istilahnya “dikecer“ atau “dipeureuh“. Gunanya untuk membersihkan matanya dan menajamkan pandangan mata.

Tidak ada komentar:

Poskan Komentar